Search

Who are you?

Hi there! Karisma Optik is optical shop located in Jakarta, Indonesia. Good service, good price for your looks & sight is our goals.
Here, you can view our shop promos, new product arrivals & maybe a little bit something about our shop story. Isn't that interesting? Well, sure it is!

Categories

Archives

Meta

Cara Memilih Kacamata Hitam

Filed under: Uncategorized — Deasy @ 5:11 am, February 23, 2010.

screen-shot-2010-02-23-at-120914-pm.pngSelain sering digunakan sebagai aksesoris fashion, kacamata hitam juga berfungsi penting untuk melindungi mata dan wajah Anda. Bagaimana cara memilihnya?

Dalam memilih kacamata, utamakan dulu untuk kebutuhan. Kebanyakan orang memilih kacamata karena keinginan, bukan karena kebutuhan. Jika Anda memiliki penyakit mata seperti katarak atau yang lainnya, Anda harus memilih lensa yang tepat:

1. Lensa gelap

Warna lensa coklat, hitam dan hijau cocok untuk anda yang sedang mengalami sakit mata. Kacamata berlensa gelap ini penting digunakan karena bisa menutupi mata Anda yang sensitif.

2.Lensa polarized
Lensa ini bagus digunakan oleh semua orang. Terutama untuk orang yang memiliki mata sensitif. Lensa ini memiliki lapisan yang bisa menghindari silau cahaya.

3. Perlindungan UV 100%

Lensa ini sangat penting untuk semua orang. Banyak toko yang menjual kacamata murah dengan perlindungan UV 100%, jangan tertipu! Berhati-hatilah dalam memilih kacamata ini. Pastikan mata anda terlindungi 100%.

4. Warna Lensa

Lensa kacamata juga memiliki berbagai warna, lensa berwarna kuning dapat meningkatkan kontras yang memperdalam penglihatan, lensa cokelat umum digunakan untuk Anda yang hobi Golf, walaupun lensa semacam ini menyebabkan  distorsi warna.

Lensa warna hijau kerap digunakan untuk menyetir malam hari untuk meredupkan lampu-lampu yang silau. Sedangkan lensa hijau, biru, dan ungu lebih banyak bersifat estetik saja dan tidak memiliki manfaat khusus pada penglihatan.

Kacamata hitam atau sunglasses sangat umum digunakan hanya untuk kepentingan estetik semata. Para selebriti juga sering menggunakan kacamata hanya untuk menyembunyikan mata dan wajah mereka. Kacamata teashade dan mirrorshades umum digunakan untuk fungsi ini.

Sumber: wolipop

Foto oleh: chottouch

Jika Anak Balita Harus Berkacamata

Filed under: article, kacamata — Deasy @ 4:35 am, February 19, 2010.

screen-shot-2010-02-19-at-113336-am.pngHati-hati memaksa anak belajar membaca di usia batita. Bisa-bisa ia mengalami kelainan penglihatan. Apa pula yang penting diperhatikan jika ia harus berkacamata?

Kesehatan mata perlu dijaga sejak anak usia dini. Seperti dikatakan para ahli mata, penglihatan bayi baru lahir dan balita masih belum sempurna. Agar menjadi sempurna, selain sel-selnya dapat berubah sendiri secara anatimis (ukurannya, ketebalan, dan penyebarannya, sel-sel kerucut dan batangnya), juga harus diikuti stimulus terus-menerus dan tak boleh terganggu.

Pada masa pertumbuhan mata, bayangan yang ditangkap akan diubah ke pusat penglihatan di otak. Nah, pusat penglihatan di otak inilah yang harus mendapat rangsangan dari usia dini. Jika ada kelainan-kelainan ekstrem pada usia di mana anak seharusnya sudah bisa memfokuskan penglihatannya, para ayah dan ibu seharusnya sudah mulai waspada.

Kelainan Refraksi

Memang, tak semua anak beruntung memiliki mata yang sehat sebab, seperti dikatakan dr Setiowati Suhardjono Spm dari Bagian Ilmu Penyakit Mata FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, “Pada beberapa kasus ditemui kelainan mata pada anak sudah terjadi sejak lahir.” Kelainan yang tampak sejak lahir ini disebut kelainan kongenital. Penyebabnya macam-macam, antara lain kelainan kromosom, infeksi intra-uterin (dalam kandungan), dan sebab-sebab lain yang tak diketahui.

Akibat kelainan kongenital, anak dapat mengalami gangguan refraksi, yaitu kelainan pada kornea untuk memfokuskan cahaya, seperti rabun jauh dan dekat, juling, atau malah mengakibatkan penglihatan tak dapat sama sekali alias buta. “Para balita yang berkacamata biasanya disebabkan ada kelainan refraksi pada penglihatannya sehingga untuk menyembuhkannya atau mengembalikan refraksinya ke arah normal diperlukan bantuan kacamata,” kata Setiowati.

Lebih jauh ahli mata ini menjelaskan, seorang bayi pascalahir mempunyai bola mata dengan ukuran sumbu 17 mm, sementara orang dewasa memiliki sumbu bola mata 24 mm. Jadi, pada waktu lahir, seorang bayi sudah memiliki ukuran bola mata sebesar 75 persen dari ukuran mata orang dewasa.”Ukuran bola mata ini akan bertambah secara cepat pada tiga tahun pertama. Jadi, di usia 3 tahun, ukuran bola mata mencapai 96 persen dari ukuran mata orang dewasa,” jelasnya.

Nah, dengan adanya pola pertumbuhan ini, tajam penglihatan bayi dan anak balita belum mencapai standar penglihatan normal orang dewasa. Karena itu, penglihatan mereka masih dalam kategori subnormal, tapi tak bisa dikatakan ada kelainan refraksi. Hal itu disebabkan penglihatan mereka, sejalan dengan usianya, sedang mengalami masa pertumbuhan.

Sebagian besar bayi, tutur dokter yang banyak mempunyai pasien balita ini, saat lahir mempunyai kesalahan refraksi +2D. “Sebagian besar bayi ini akan mengikuti pola pertumbuhan normal bola mata sehingga pada usia 6 tahun tak lagi mempunyai kelainan refraksi. Proses ini disebut emetropisasi,” katanya.

Oleh karena ada pola perkembangan normal ini, seorang anak usia di bawah 6 tahun yang mempunyai tajam penglihatan subnormal tak dapat dikatakan mempunyai kelainan refraksi. “Asal tajam penglihatan sesuai usianya, diharapkan pada umur 6 tahun seorang anak tanpa kelainan refraksi sudah dapat mencapai tajam penglihatan normal (emetrop),” lanjut dosen penyakit mata di FKUI ini.

Sumber: kompas.com

Foto oleh:  Lulu Taylor

Copyright © 2006-2007 Karisma Optik. All rights reserved.
XHTML, CSS, Designed by Stucel.
Powered by WordPress